Showing posts with label Shout Out. Show all posts
Showing posts with label Shout Out. Show all posts

Kata Bu Elis

Ibu Elis, satu-satunya ibu-ibu di ruangan. Hanna bilang beliau ini sudah seperti ibu kosan kami. Sering sekali beliau cerita dari topik ke topik yang secara random kami campur aduk.

Suatu waktu ketika pergi ke Bogor secara random kami membahas seorang kakak kelas kami(laki-laki) di ruangan yang tidak punya pacar dan sedang suka dengan seorang gadis di angkatan kami. Si kakak ini belum apa-apa sudah bercerita ke semua orang, sampai temannya yang tidak seruangan pun tau tentang si gadis.

Dengan pedulinya Bu Elis menasihati si kakak, "Dek, kalo cara kamu kayak gini mendekati wanita. Kamu nggak akan dapet. Nggak bakal. Kemarin kamu bahas usia sama ****(menyebut nama si gadis), kamu tau itu nggak boleh. Jangan sekalipun memulai dengan membicarakan kelemahannya. Wanita itu gila perhatian, dek. Perhatikan dia dan pujilah dia. Nggak perlu dia bilang kebiasaannya, kamu harus tau sendiri. Jadilah teman baiknya. Maka dengan begitu hatinya luluh."

Begitu kata bu Elis...
*maaf jika tidak sama kalimatnya. Saya pelupa.

Banjarmasin, 19.10.2012    15.45 WITA
Category: 4 comments

28.09.2012



Jumat penuh berkah kembali saya rasakan. :) Tidak ada kejadian spesial, tidak ada hadiah yang saya dapat, tidak ada saja, tapi rasanya Subhanallah damainya. :)

Pagi ini saya datang ke kantor pukul 8.30, paling pagi dari semua scumbag magangers di direktorat 2. hehe... Kertas kerja sudah rapih, tapi sepertinya saya masih perlu diskusi dengan pak-ketua-tim-yang-paling-ganteng-sekantor. Siang harinya makan siang bersama teman-teman, sorenya diskusi dengan pak-ketua-tim-yang-paling-ganteng-sekantor. Seru sekali diskusi kami, penuh tawa, dan saya sangat senang jika kondisi kerja sedang kondusif seperti ini. Dengan pekerjaan yang mulanya menggunung kemudian sekarang mulai menipis, saya semakin mencintai pekerjaan ini. Saya ulangi, saya... semakin... mencintai... pekerjaan... ini...

Ah, lupakan kertas kerja. Saya ingin bercerita tentang niat saya kontinyu memakai kaos kaki. Memakai kaos kaki sih mudah, istiqomahnya yang susah. Entah karena lupa, atau alasan semacam 'kalo pake crocs gak cocok pake kaos kaki' dan semacam itu lah. 
Mengapa tiba-tiba mau istiqomah pake kaos kaki? Saya pernah baca twit ustadz @felixsiauw yang katanya kaki juga merupakan aurat, makanya kita harus pake kaos kaki terus kemana-mana. Yah, Insya Allah saya coba yak terus pake kaos kaki. Mau coba juga jilbabnya yang syar'i dan stylish kalo kata kak fitri(Kivitz). Yang gak bisa saya ganti mah cuma satu, pakai rok. Sekalinya pakai rok ke kantor dikecengin bu Elis. :|

Next topik, besok senin(Insya Allah) kami diangkat lho! :D

7 bulan sudah saya bergelut dengan watak baru, pendewasaan, pelajaran yang banyak, pukulan yang cukup,  dan tak pernah lupa kembali berdiri setelah jatuh. Merasa semakin mampu berjalan lebih jauh dan lebih jauh lagi. Ketika akhirnya wajah-wajah mereka yang mulai saya sayangi terganti dengan wajah baru, pasti melankola kembali berseru. Tapi saya yakin semuanya baik-baik saja, dan akan tetap baik-baik saja.

Alhamdulillah...
Syukurku atas rahmat-Mu
:)

ah, meracau pagi hari! 

ijonk 
29.09.2012 03.07 AM
Category: 5 comments

Sepulang Kuliah Umum SPEAK di KPK

Saya menulis ini di pagi buta, memaksa tetap terjaga sampai hanya tidur 1,5 jam saja. Bahasannya sudah oldyear banget mungkin. Tapi untuk arsip, kembali saya sisipkan di blog saya. :)

S.O.S


Televisi, koran, majalah menjadi panggung pentas bagi drama antara cicak dan buaya. Sempat terbayang jajaran eksibisi bioskop dengan headline “HARI INI – STUDIO 1 – CICAK vs BUAYA”. Opera ini merajai sampul media. Sampai-sampai presiden yang baru dilantik tidak lagi menggelitik untuk ditilik. Tidak berhenti pada satu episode, drama ini menjadi semakin panjang hingga bisa dikatakan bak telenovela. Sarat sanggahan, bantahan , pembenaran, terkaan, dan tipuan mungkin. Publik bisa beropini apa jika alur saja tidak ada dan melulu percikan kejutan termaktub dalam setiap fenomena penghias media yang tersodor. Masyarakat bisu, dan semacam sudah tradisi mahasiswa yang mewakili.

Satu kunjungan ke KPK mengguyur kepayahan mata ini menangkap fakta. Wartawan menanti umpan dan mahasiswa berunjuk rasa di depan gedung bisu bertapal KPK di puncaknya. Eksibisi kertas karton dan helaian kain putih bertuliskan ‘ini-itu’ memang sudah biasa menjadi senjata andalan mereka. Aksi mogok makan, koar lagu, dan orasi dari luar parlemen menjadi rangkaian bukti adanya rasa peduli pada bangsa. Hujan yang mengguyur tak surutkan langkah, tutur dan tindakan mahasiswa-mahasiswa. Tak pernah terasai peduli yang begitu terlihat. Selama ini hanya menjadi saksi saja. Pemandangan menjadi bagian dari fondasi idealisme hanya ada di angan-angan. Terus menyalahkan diri karena terpingit dalam ketidak-mau-tahuan. Malu saya menyandang title mahasiswa. Di facebook sedang gencar orang-orang meng-klik tulisan “become fans” pada group “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto”. Menunjukkan eksistensi menjadi bagian dari group yang sudah beranggotakan 1,2jt lebih itu memangnya cukup?

Melihat ke dalam
Dalam ruang rapat pimpinan KPK masih tergantung pigura yang memagari sampul majalah GATRA. Sampul itu berbicara, IKON 2008; PANDAWA … (maaf tidak ingat judul lengkapnya). 5 wajah yang tidak asing mendominasi satu halaman paling muka, Antasari Azhar, Bibit Samad Riyanto, Chandra Hamzah, M Jasin,dan Haryono Umar. Siapa sangka tiga dari ikon-ikon itu tiba-tiba saja mendapatkan kesempatan mencicipi hotel prodeo? Ada-ada saja negeri ini. Begitu cepat siklus ‘Rise and Fall’ terjadi. Pandawa memang berhasil merangkul perhatian, setidaknya tiga sampai empat dari mereka lah. Bagaimana tidak? Ibarat satu tiang penyangga Negara akan diamputasi, KPK diguncang dari tahtanya.

Tertangkap keluhan kecil Haryono Umar dalam kuliah umum bersama beberapa mahasiswa STAN(sekitar 40 mahasiswa mungkin), “Sangat susah memberantas korupsi di Indonesia, apalagi dengan keadaan seperti sekarang ini ya. Hajar kanan, hajar kiri, pusinglah!” Ck, ck, ck! Cicak mulai berdecak. Salah satu anggota Pandawa tadi memberikan petuahnya juga “Untuk memberantas korupsi kita butuh envisioning. Inovasi. Seperti rumah makan padang, pelanggan belum sempat berpikir tetapi semuanya sudah tersedia di meja. Itu yang kami lakukan di sini(KPK)”. Restoran fast food sekarang sedang tren bung! KFC(konspirasi frontal cicak) dengan KPK? Lebih cepat mana? Autotomi adalah senjata untuk melarikan diri (dalam biologi), inikah envisioning yang disebutkan? Tidak! Mereka tidak akan lari.
Entah pihak mana yang dusta saat saling melempar bukti ke tengah persidangan dan di depan pers. Pengakuan mulut memang gampang disulut. Pihak yang merasa kejatuhan bukti lebih kuat, main lempar saja untuk konsumsi penonton setia.


Testimony Penutup
Masih segar di ingatan saat penangguhan penahanan Bibit dan Chandra dikabulkan, malam harinya hadirlah mereka di salah satu stasiun TV. Terlontar pertanyaan dari presenter acara tersebut mengapa mereka berdua yang diincar? Bibit menjawab “Ya… Yang banyak omong si Bibit dan yang tanda tangan si Chandra, yaudah!” lebih lanjut saat menjelang penghujung acara mereka dihujani pertanyaan mengenai rencana ke depan KPK, giliran Chandra menjawabnya “Kita selesaikan ini dulu lah.” Secuil pernyataan penutup Haryono Umar saat kuliah umum di KPK, “Doakan kami ya.” Kalimat pincang yang sangat terngiang di kepala. They do need a help.

=izati choirina mabok, 14 november 2009, 02.23 WIB=
Category: 0 comments

Cup Muah!


Tangan saya gatel  ingin menulis tentang M-net music award. Korean artist and singer, group and solo. Not about the overall event, more about their attitude in greeting someone.

I tell you what, mereka sangat amat njawani. ‘Mereka’ refers to all Korean artist and singer who accept the awards or deliver to the winners indeed. Mengapa saya beranggapan demikian? They do bow or shake hand, not cipika-cipiki. Sweet!

Orang Indonesia yang dalam catatan sama-sama terhitung sebagai Negara Timur sudah mulai luntur unggah-ungguhnya. Lihat saja, dalam suatu ajang penghargaan yang dihelat hampir semua artis yang mendapatkan penghargaan, atau sebutlah yang lebih sering, menjadi tamu dari sebuah talkshow tidak jarang melakukan ritual cipika-cipiki tersebut. Bukannya jabat tangan malah langsung main sosor menyodorkan pipi. Bahkan manusia biasa pun di Indonesia…

Sementara di Korea? Artis saja hanya sebatas menunduk dan berjabat tangan. Sopan dan enak dilihat. Ya mungkin hanya untuk kepentingan recording sih. Entah aslinya budaya di sana seperti apa. Karena setau saya pun di reality show Korea tidak ada pelestarian cipika-cipiki. Tapi ya, di Mnet music award ini ada kiss performance jugak sih tiap tahunnya.

Wait! Jangan buru-buru menganggap saya berpandangan sempit ya.
Maksud saya menulis ini, bukankah dulu masih sangat dikenal yang namanya unggah-ungguh, sungkan, dan tabu. Boleh saja meniru budaya barat yang memang makin hari makin mendunia. Tidak kah ada yang perlu disaring tentang apa yang kita tiru?
Cup Muah! Silakan direnungkan.
Category: 0 comments

Bali Deh


Foto tersebut diambil saat saya mengikuti event Olimpiade Perguruan Tinggi Kedinasan di IPDN(dulu STPDN). Ada banyak lambang di deket gerbang depan. Saya foto di Bali, Kalimantan Tengah, dan satu wilayah lagi saya lupa. Yang jelas bukan Jawa Tengah.

Tahukah anda? Saya ingin sekali bisa ditempatkan di Bali. Kakak saya, lulusan STAN '96 DJP, pernah penempatan Bali, sebelum akhirnya melanjutkan S2 di UGM. Dan beliau pernah bercerita susah cari makan di Bali, dan yang bisa diandalkan cuma nasi padang yang notabene enggak jauh-jauh dari dominan rasa pedas. Sangat berisiko untuk penderita maag akut seperti saya. Kakak saya juga bilang, pernah di Jakarta, Medan, Bali, dan Jogja tapi yang paling enak ya, Jogja.

Iya sih, sempat juga ingin Jogja. Ibu saya berdoa demikian sampai saat ini. Bahkan teman sekosan saya yang masih tingkat 2 bilang,
"Pengennya NTAR penempatan Jogja, mbak"
Padahal jelas-jelas dia anak Medan. Bahkan teman sekelas saya yang barusan lulus bersama saya juga bilang ingin penempatan Jogja, meskipun ia akhirnya meralat keinginannya ke Makasar, padahal jelas-jelas dia anak Medan. Bahkan kakak kelas saya banyak yang bilang penempatan Jogja padahal jelas-jelas bukan orang Jogja. Bahkan saya yang masih bau kemeja putih dan dasi sisa yudisium kemarin sore juga pernah berkeinginan penempatan Jogja kemudian beralih hati ke Bali, padahal jelas-jelas anak Klaten.

Jadi,
Ada apa dengan Bali?
Ada pantai yang jelas, ada tebing juga. Entahlah alasan lainnya. I love Bali for no reason.

Seperti kata Sir Edmund Hillary jika ditanya mengapa dia naik gunung, "Because It's There."
Category: 0 comments

Satu Hal

Satu hal...

Saya seorang gadis
Fitrah saya untuk menjadi lemah lembut
Ramah penuh senyum
Belajar masak
Belajar macak
Saya seorang gadis
Yang menjaga tutur
Menjaga tindakan agar dihargai
Bukan dibandroll, tapi diapresiasi
Saya seorang gadis
Perilaku santun, menghormati, menghargai, peduli, merawat, tegar

Satu hal...
Saya seorang gadis
Category: 0 comments

For my sanctuary . . .

Maybe my heart is a fragiLe heart . . .
Need to be covered, need to be pRotected . . .
But it's the onLy thing for you I got . . .
To be Loved, and to be touched . . .

I want to be strong . . .
Like I never be . . .
I want to keep you in my arms . . .
Like no body does . . .

Thank you . . .
For being MY SANCTUARY all this time . . .
Thank you for the haLf Life of yours that you gave to me . . .

I can't say anything but just . . .
" I LOVE YOU MUM . . ."
Category: 0 comments

Kepada yang Tercinta…

Kepada yang tercinta,
Tuhan adil jika memberi ini semua, karena aku tahu bagaimana rasanya duri-duri buta ini menusukku di saat engkau tiada.
Kepada yang tercinta,
Maafkan khilaf ini, yang sering menuangkan tangis saja di kala semuanya tak sampai jangkauan kata.
Kepada yang tercinta,
Hanya ingin kau tahu, aku berdiri hampa di tengah galaunya hati, merintih dan menyepi tanpamu.
Kepada yang tercinta,
Kemana aku harus berpegang hingga merantai tanya saat kebiruan melandaku.
Kepada yang tercinta,
Tak perlulah ku tunjukkan pada mereka cuilan hati yang terbuang demi berlagak teguh di saat hancur.
Kepada yang tercinta,
Senyum ini terkembang untuk mengenangmu, tangis ini mengalir demi tak sampainya kasihku padamu.
Kepada yang tercinta,
Masih tergema di telinga ini suara yang kau hela untukku.
Dan kepada yang tercinta,
Aku merindukanmu di setiap doaku.
Kepada yang tercinta,
Aku berharap Tuhan menjaga doa ini agar tak putus untukmu.
Kepada yang tercinta,
Semoga kita bertegur sapa di ‘Adn-Nya nanti, meskipun aku bukan aku dan engkau bukan lagi engkau.
Kepada yang tercinta,
Kau selalu di hati kami.
Karena kaulah yang tercinta.

Buat papa di surga sana. Hampir 7 bulan aku kehilangan tempat bertanya.
03 Juli 2009
Category: 0 comments

Kaki

Melenggang dengan sepatu putih kesayangan. Semula warnanya bersih, seperti tanpa noda. Kini memang tak seputih kala pertama melihat. Cenderung coklat tertutup lumpur yang kian liat menempel di sekujur tubuhnya.
Kaki ini menyusuri jalan yang tak lagi asing baginya, menuju tempat menuntut ilmu mahasiswa-mahasiswa berbandrol aset negara. Apa pula yang membawa kaki ini sampai ke tempat ini...

Lagi, ia melangkah ke sana. Hari ini penuh dengan helaan napas seiring peluh yang berbulir menuruni dahi.
Pasang surut semangat ini jika mengingat apa yang telah dijejaknya dan apa yang hendak ditapaknya tapi tak kunjung terkecap, hanya melayang dalam pikiran yang terus mengalir mengiyakan langkah seribu dari pangkuan ibu.
Kini ia bersandar pada pijakan bangku yang berbeda.
Tak ada lagi yang sama, hanya tekad semakin kuat memakukan diri di belahan bumi ini.

Dua tahun lagi ibu, dua tahun lagi . . .

=sumpah pemuda, 28 oktober 2009=
Category: 0 comments

Untuk dia

Entah berapa keping kata telah kupecahkan
Entah berapa lagu telah kuhelakan
Entah berapa YaaSin telah kusenandungkan

Untuk dia di surga sana . . .
Rasa ini mengendap
mungkin sudah mengeras di hati
jangan memaksaku membakarnya
Biar kusiram dengan lantunan doa
Biar rasa ini tumbuh untuk dia yang berada di surga . . .

Aku senang masih meraba rindu ini
Aku membiarkannya membatu
Aku meneguhkan hati di iringan doaku
Doa yang ku percaya akan sampai ke muara . . .

=million times I've said; "I miss you,dad!Thanks for lessons you've given to me.I will always be strong.This is my vow."=

03022010
Category: 0 comments

first post after missing...

copas notes yang di FB dulu lah...

Aku percaya

Di tubuh lemah ini aku berdiri.
Terus tegar di gelinciran langkah.
Derap langkah kecil iringi mimpi.
Air mata masih saja mengalir ke muara.
Muara penuh duri.
Duri yang merajam setiap pejam.
Langkah tak lurus.
Darah tertumpah.

Tapi aku percaya . . .
Kepala-kepala ini akan tertunduk mengiring hadirku.
Tepuk riuh ini akan terbelai di telingaku.

=pusing banget kepala saya=
18 februari 2010 00.39 AM
Category: 0 comments