Showing posts with label BALI-ing by 913. Show all posts
Showing posts with label BALI-ing by 913. Show all posts

Waktu Senggang + Uang Satu Juta = Bali


Jika anda punya uang pas-pasan dan memiliki waktu sangat senggang seperti saya, lari lah ke Bali barang sejenak. Akan lebih baik lagi jika anda punya kerabat atau teman yang berdomisili di Pulau Dewata ini. Selain kemungkinan mendapat keringanan dalam biaya akomodasi, waktu anda akan lebih efisien selama di Bali karena sekaligus mendapatkan guide gratis.

Berikut rincian biaya meliputi transportasi yang saya tempuh dari Yogyakarta menuju Denpasar(Bali), sewa motor, penginapan, dan HTM

Yogyakarta – Banyuwangi                                       : Kereta Sritanjung               Rp 35.000,-
Banyuwangi(Ketapang) – Denpasar                         : Bus Akasasri                      Rp 25.000,-**
Denpasar – Kuta                                                     : Carter angkot                     Rp 100.000,-*
Sewa Motor                                                            : Rp 50.000,-/day
Penginapan                                                              : Rp 100.000,-/2 orang/malam

HTM…
Garuda Wisnu Kencana                                            : Rp 25.000,-
Pura Uluwatu                                                            : Rp 3.000,-
Monkey Forest                                                         : Bisa free, bisa Rp 20.000,-
Danau Batur                                                              : Rp 10.000,-
Pantai Sanur                                                              : Free
Tanah Lot                                                                  : Motor Rp 2.000,- Orangnya Rp 7.500,-
Pantai Kuta                                                                : Free

*Karena kami bersepuluh, maka satu orang dikenakan biaya Rp 10.000,- untuk carter angkot.
** Jika bus anda tidak mengakomodir tiket penyeberangan, biaya menyeberang Ketapang - Gilimanuk Rp 6.000,-

Perjalanan Yogyakarta – Banyuwangi memakan waktu 14 – 15 jam. Kereta Sri tanjung beranjak dari stasiun Lempuyangan Yogyakarta dengan jadwal kereta pukul 7.28 WIB. Akan tetapi kereta ekonomi ini tidak akan berangkat sebelum kereta ekonomi Bengawan dari Jakarta merapat ke stasiun tersebut. Saat itu kereta berangkat pukul 8.25 WIB, dan tiba di stasiun Banyuwangi Baru hampir tengah malam.

Anda akan menemui banyak penjual asongan di sepanjang perjalanan. Dari penjual lanting, potongan kuku, mainan anak-anak, bahkan burung hantu pun dapat anda temui. Harga lanting semakin ke timur akan semakin mahal karena asalnya sendiri dari Kebumen, maka wajarlah ada kenaikan harga. Di daerah sepanjang Ngawi hingga Pasuruan ramai sekali penjual hewan-hewan liar. Ini dikarenakan daerah tersebut terdapat hutan-hutan jati(kata nyonyahe). (Teman seperjalanan saya, ayong*, sempat membeli burung hantu yang dinamakannya Jojom 2. Dengan harga Rp 20.000,- ini masih sangat bisa untuk ditawar dengan harga lebih rendah. Tapi apa daya ayong pasrah.) 
*Badannya gedhe bener, tapi kalo masalah nawar mendadak lunak.

Kereta Sri Tanjung akan berhenti di stasiun Gubeng Surabaya untuk mengganti lokomotif dan akan berhenti cukup lama. Selanjutnya kereta akan melewati lokasi semburan lumpur Lapindo. Agak berbau telur busuk jika melewati daerah ini. Setelah lokasi tersebut di kanan dan kiri rel sering sekali nampak pemandangan tanah pekuburan. Tengah malam di depan stasiun Banyuwangi Baru banyak banci. Jika anda lelaki berbadan besar seperti ayong berhati-hatilah, banci sangat suka.

Berjalan keluar dari stasiun ke arah pelabuhan Ketapang, akan banyak anda temui bus dengan jurusan terminal Ubung(Denpasar). Bus dengan sheet 3 – 2, dan tanpa AC. Harga Rp 25.000,- yang kami dapatkan bukanlah harga paten. Itu adalah harga debat antara Sinaga dengan bang sopir. Jadi? Pandai-pandailah dalam bernegosiasi. Hidup sinagalapet! 

Begitu bus memasuki kapal dan mematikan mesinnya, kami menuju mushola yang terdapat di kapal ini untuk menjama’ sholat maghrib dan isya’. Penyeberangan hanya berlalu sekitar 30 menit sampai satu jam. Pergilah ke bagian deck kapal dan menikmati angin malam yang lumayan kencang, jika beruntung anda bisa meminta untuk masuk ke bagian kendali kemudi kapal. Meskipun dengan jelas tertera ‘dilarang masuk’.

Sesampai di Gilimanuk akan selalu diadakan pemeriksaan KTP(kartu identitas lain bisa, seperti SIM), kabarnya orang yang kedapatan tidak memiliki kartu identitas diperintahkan untuk kembali. (Nggak tau sih, saya enggak nyoba juga.) Perjalanan panjang dari Gilimanuk menuju Denpasar, memakan waktu cukup lama. Adzan subuh terdengar tidak lama setelah kami sampai di terminal Ubung Denpasar.

Denpasar – Kuta dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit. Ada alternatif lain selain menyewa angkot. Ada trayek angkot menuju Kuta. Hanya saja alternatif ini mengharuskan anda 2 kali naik, dan transit di wilayah Tegal dulu baru kemudian melanjutkan ke Kuta. Saya menemui hampir semua angkot berwarna biru, ternyata yang membedakan adalah warna garis pada badan mobil angkot ini(koreksi saya jika saya salah J ).

(Penginapan dan Transportasi di Bali)
Kuta, gang Poppies Lane II. (katanya sih)Di sinilah sentra penginapan murah bagi para backpacker. Penginapan yang sangat terkenal dengan tarif kamar Rp 50.000,-/2 orang/malam adalah Arthawan. Saya dan seluruh teman seperjalanan tidak menginap di tempat tersebut lantaran penuh. Kami menginap di Mekar Jaya, tarifnya dua kali lipat. Keuntungan memilih tempat ini(Mekar Jaya), begitu keluar langsung ketemu tempat penyewaan motor. Memang di Bali sangat mudah menemui tempat penyewaan motor sih. Mayoritas motor yang disewakan adalah motor matic.

Hal yang menarik dari tempat rental motor di sini, tidak hanya menyewakan motor saja. Ada ‘perpustakaan’ yang dikelola oleh pemilik yang sama. Tempat ini melayani penukaran dan penjualan buku. Anda bisa menemui buku dengan berbagai bahasa, bahkan terbilang jarang buku dengan bahasa Indonesia di deretan rak yang saya temui. Oya! Anda bisa meminta atau membeli brosur dengan peta yang dipajang di depan rental. Hati-hati, brosur tersebut ada yang memang disediakan gratis dan ada juga yang dijual. Mintalah untuk dijelaskan rute menuju tempat wisata yang ingin anda kunjungi. Atau lebih baik, mintalah teman anda yang berdomisili Bali, atau berkuliah di Sekolah Pariwisata di Bali, untuk menunjukkan jalan. Itu akan lebih menghemat waktu.

(Destinasi)
Hari Pertama

Pura Uluwatu
Mengutip dari blog sanda,
Sampai juga di Pura Luhur Uluwatu.

“This temple is one of several important temples to the spirits of the sea along the south coast of Bali. It’s one of the seafront temples beside Tanah Lot, Rambut Siwi, and Pura Sakenan. The temple is perched precipitously on the southwestern tip of peninsula, atop cliffs that drop straight into the pounding surf” (lonely planet page 132).
“For the Balinese, Pura Tanah Lot is one of the most important and venerated sea temples. Like Pura Luhur Uluwatu, at the tip of the southern Bukit Peninsula, and Pura Rambut Siwi to the west. Its said that each of the ‘sea temples’ was intended to be within sight of the next, so they formed a chain along Bali’s southwestern coast-from Pura Tanah Lot you can usually see the cliffs top site of Pura Uluwatu far to the south, and the long sweep of sea shore west to Perancak, near Negara” (lonely planet page 272)."



Berbagai macam gaya...
Pakai sarung, padahal celana kita lebih
dari selutut.
Wow, seandainya saya tuntas baca buku itu sebelum sampai di Bali, pasti kekaguman saya jauh lebih besar. Bayangkan, orang jaman Majapahit udah bisa mbangun arsitektur se-mikir itu dan se-keren itu. Dari salah satu Pura Laut tersebut, kita bisa melihat Pura Laut di seberang lho katanya… Padahal jaraknya puluhan kilometer. Semacam benteng terluar selatan Pulau Bali lah.

Tahu begini, kami nggak hanya foto-foto doang (lha memang mau ngapain lagi yak?). Setidaknya kami bisa merinding disko kalau bisa lihat Tanah Lot dari kejauhan begini. Sedihnyooo."


Biaya masuk pura uluwatu hanya Rp 3.000,-. Pengunjung diharapkan berpakaian rapi dan pantas. Karena ini tempat sakral, pengunjung harus mengenakan kain mirip selendang kecil yang diikatkan di pinggang, untuk yang bercelana pendek juga dianjurkan memakai selendang yang lebih lebar sebagai sarung.

Monkey Forest
HTM monkey forest Rp 20.000,- dan ada yang jualan pisang di sana jika anda berniat mulia memberi makan monkey-monkey liar. Ada jalan cukup untuk dilalui motor yang meniti pinggiran tempat ini jika anda sayang dengan dua puluh anda.

Pantai Dreamland
Kami mengunjungi pantai dreamland yang bersih tapi ramai. Ombak di sini besar, beberapa surfer memanjakan diri di sini. Ada juga yang melakukan recording di pantai kala itu, entah untuk kepentingan apa. Awalnya saya sempat mengira ayu ting-ting. Saya lupa deh bayar ato enggak masuk ke komplek New Kuta B**ch ini.

Garuda Wisnu Kencana
Garuda Wisnu Kencana adalah tempat dimana anda bisa menyaksikan cita-cita besar membangun patung yang akan melebihi icon paman sam, yakni patung liberty. Biaya masuk Rp 25.000,- dan agaknya pada complain mahal. Menurut saya sih worthed. J
Ada bermacam suguhan tari-tarian di amphi theater GWK. Pukul 18.00 WITA,tarian Kecak mulai disuguhkan. Sebenarnya ada performance sebelumnya, tapi saya lupa tari apa, dan kami nggak nonton jugak. Saya terkesan dengan tari kecaknya. (Meskipun kata iwan biasa aja sih.) Pilih lah duduk di deretan paling depan, jika beruntung anda akan diajak turut berpartisipasi(berarti saya sial dong). Lebih nampol aja kalo duduknya di depan. Dan kalau anda cukup tidak tau malu seperti Jojom, bisa ngeloyor aja ke depan ikut nari. Penonton biasanya mengajak para penari berfoto seusai pertunjukan.

Hari Kedua

Berikut beberapa twit saya tentang hari ke-2

day 2 Bali-ing, CUMA ke danau batur. iya sih satu destinasi aja, tapi indahnya subhanallah yah!”
“Danau batur terletak di kawasan wisata kintamani, kalo ketauan tampang turis, bayar di pertigaan loket menuju danau.”
“Lupa deh bayarnya berapa, 10k kayaknya”

Danau Batur sangat jauh dari Kuta, pantat tepos terbayar dengan indahnya pemandangan kawasan wisata Kintamani. Danau Batur adalah danau vulkanik. Sempat aktif beberapa bulan sebelum kedatangan saya ke sana oktober lalu. Kata seorang ibu yang memiliki warung di sekitar danau dan berdomisili asli di situ, saat danau aktif warnanya berubah-ubah. “Jadi bagus warnanya, tapi ikan-ikan mati.” Tutur bu kadek(jika mengikuti teori hipotesis sanda, nama beliau bu kadek).
Desa Trunyan terlihat dari tempat kami berhenti di warung bu kadek, beliau sempat menambahkan bahwa biaya perahu(speed boat) untuk menyeberang normalnya adalah Rp 500.000,- berapapun orangnya.

Hari Ketiga

Pantai Sanur
Sunrise sangat indah di pantai Sanur, sepi sekali. Hanya beberapa bapak-bapak yang mempersiapkan amunisi divingnya. Sangaaaat indah sunrise di sini, meskipun pantainya sudah agak kotor. Saksikan sendiri dan anda akan tahu yang saya maksud.

Tanah Lot
Agak pasang jika pagi, dan anda tidak bisa masuk jika ada upacara di sana. Yang namanya batu karang memang tajam, hati-hati saja jika anda me-labil di sana. Lecet-lecet.

Pantai Kuta
Kalo mau liat sunset katanya sih di sini. Entahlah, kami nggak nyunset di sini. Padahal deket.

Erlangga
Sentra oleh-oleh yang katanya murmer alias murah meriah. Selama ini pasar tradisional Sukowati lebih menggaung namanya daripada Erlangga. Jika anda malas menawar(biasanya cowok-cowok), anda bisa datang ke toko ini. Semua barang yang dijual sudah ber-tag dengan harga yang lumayan miring. (Saya kalap banget kalo belanja oleh-oleh! Habis lebih dari Rp 300.000,-!)

Dari Erlangga kami langsung menuju terminal Ubung. Belum sempat angkot yang kami carter berhenti, calo-calo sudah masuk ke angkot dan berteriak sana-sini. FYI, calo di terminal ini sangat ganas. Anda akan diikuti kemana pun anda pergi.

Ngongkos pulang;

Carter Kuta - Erlangga                                                      : Rp 100.000,-
Carter Erlangga - Ubung                                                    : @ Rp. 7.000,- (ber-9)
Ubung - Gili manuk (nggak nyampe Ketapang)                   : Rp (LUPA)
Gili manuk - Ketapang                                                       : Rp 6.000,-

Demikian beberapa tempat yang kami tuju dan rincian biaya serta sedikit bumbu cerita. Perjalanan dengan destinasi yang sama bisa berkesan berbeda dengan teman seperjalanan yang berbeda.

Terima kasih kepada,

Ahmad atas kasur yang super PW(yang nggak dapet kasur nggak usah senewen), super-delicious-hot-tea, dan sarapannya.

Mbak Lia yang sudah menemani me-wanita, dan ilang bross-nya, miyanhae.

Sando yang nyobain semua potongan kuku di kereta.

Gugun yang sangat menyebalkan dan giat sekali 'ngece'.

(oom) Dio yang membawa serta Lia. 

Jombang yang menambah aroma kehomoan di rombongan.

Dedi yang ampe juling liat 'lonely planet'.

Iwan yang sudah sabar mengojek 3 hari.

Ayong yang udah pasrah nggak mau nawar.

Rifkik yang ngikut ke Bukit Bintang.

Sayyyyyang kalian. Terima kasiiiiih. :) :D

Yogyakarta – Banyuwangi, 19 Oktober 2011


Yogyakarta – Banyuwangi, 19 Oktober 2011

Lanjutan dari cerita sebelumnya, kami menginap di tempat Ahmad. Saya dan mbak Lia di dalam, para lelaki di ruang tamu. Capek teramat sangat karena sedari pagi sampai sore tadi saya sibuk sama nyonyahe, dan kasurnya Ahmad berhasil memanjakan kaki pegal dan punggung renta ini, maka langsunglah saya molor.

Pagi hari sekitar pukul 5, langsung bangun ke ruang tamu, agak kaget pun liat Rifkik masih di ruang tamu. Tapi akhirnya saya berlalu dengan facial foam di tangan, lanjut sholat subuh, unpacking, ngantri mandi, packing lagi. Kemudian ke ruang tamu lagi, minum super-delicous-hot-tea ala rumah Ahmad yang melegakan perut saya.

Keadaan agak kritis menunggu kedatangan Dio dan Jombse. Ahmad terus dan terus mengupdate mereka sampai mana. Diambil keputusan, kami duluan, Ahmad nunggu Dio dan Jombse.

Kami yang duluan pun nggak lebih baik nasipnya daripada mereka yang belum datang. Kami menelpon taksi, menunggu dan kabur dengan taksi lain ketika taksi pesenan datang… (Percayalah, itu sungguh tidak mulia, wahai Izati dan teman-temannya.)

Setelah beberapa menit, sampailah kami di stasiun, ketemu Dio dan Jombse di sana. Kereta kami juga ngaret minta ampun, jam setengah 9 baru berangkat. Ahiya, kucel banget muka si Dio ama Jombang, maklumlah mereka baru sampai dan akan berangkat lagi. Keluar lah si Dio dari kereta sri tanjung yang notabene sudah stand by, (mungkin ke kamar mandi) dan kembali dengan muka cling-cling. Ejieee pasti pake shampoo!

Saya, mbak Lia, Sando, Ahmad, Gugun, Dio, Jombang, Dedi, Iwansyah, akhirnya lengkap berkumpul di stasiun Lempuyangan. Kurang Ayong yang mengira saya lelaki, dan ternyata dari setengah 8 dia udah nunggu di stasiun Purwosari. Sebelum kereta melaju, kami sempat foto-foto dikit di stasiun, dan membeli sarapan dengan hitungan detik bersama sando.
(fotonya entah di siapa saya lupa)

BERANGKAT!!!

Oh, man! Keretanya longgar, kalo Sando bilang itu sesek, saya bilang ini longgar. Udah pernah ngerasain yang benar-benar nggak bisa gerak, napas pun susah.
Thanks PT.KAI yang meniadakan “tanpa tempat duduk”.

Ayong menyusul masuk ke kereta begitu sri tanjung merapat di purwosari, dan dia kaget ternyata saya perempuan dan bukan lelaki seperti yang diharapkannya. (Ckckck… Dosa apa, nama Izza sampe dikira cowok.) Banyuwangiiii! Kami dataaaang!

Zzzzz…

Tidak secepat itu ternyata. Berapa jam coba hitung, jika kami berangkat sekitar pukul setengah 9 pagi dan sampai di Banyuwangi sekitar tengah malam, itu belasan jam. BELASAN JAM!

Di tengah belasan jam itu, ada yang maen kartu lah, ada yang ngobrol lah, si Iwansyah sempet curhat lah, Sando menjelaskan itu gunung apa, itu gunung apa, saya mah tinggal nanya yak. Udah kayak ensiklopedia berjalan si Sando, ditunjuk apa juga ngerti aja dia. Dio agaknya sibuk memenuhi jam tidurnya, Daddy, Ahmad, Sando, dan saya yang sering ngobrol di jalan. Dari ngomongin tempat wisata, danau toba, sampai bahas Paulo Coelho ama buku berjudul kontroversial milik Daddy. Dan sungguh memang, lelaki bukan pendengar yang baik dan wanita tidak pandai membuat topik.

Saya enggak sama sekali pindah dari kursi saya, mobilisasi saya terbatas kalo lagi di jalan gini. Nggak suka gerak gimana macem-macem, sesak pipis pun males mau ke kamar mandi.

Lanjut, setengah 12 siang saya ketiduran dengan tas dipangkuan, tangan dilipat, muka disembunyikan di antara lipatan tangan. Niscaya ini bukan posisi yang enak untuk tidur siang di dalam kereta yang lebih mirip oven kala itu. Jam 12 saya terbangun, Ya Robbana Ya Salam, basah muka sama keringat.
Saya: “Mmmm… Panas.” Setengah sadar ngomongnya sambil kipas-kipas pake tangan.
Sando: “sssshhh, ssshhh, ssshhh…” Sambil kipasin pake kipas seribu peraknya.
(seperti menidurkan bayi, bukan... -__-“)

Kereta sempat berhenti di stasiun Gubeng, rasanya mau lari ke depan stasiun mencari taksi kemudian ke FKG. Rinduuuu sekali Nurieldo, Iva, Orin, Meme, Novi, Feni, Debby, Anita, kak Ali, Adin, kak Indra, Roy, Evi, Mutia, Shendy yang katanya kosan hampa tanpa saya nyanyi-nyanyi, siapa lagi. Aaaawww… Surabaya!

Oiya, Saya, Dedi, dan mbak Lia sempat turun di stasiun gubeng, ke toilet bentar. Saya cuma wudhu, kemudian menunggu mbak Lia. Lhah pas saya liat ke luar, keretanya jalan, PANIK! 
“Mbaaaak! Keretane mlaku… Mbaaakkk…” 
Larilah saya keluar, diikuti mbak Lia, dan Dedi ternyata juga denger. Matek! Tapi ternyata keretanya cuma geser dikit buat benerin lokomotif yang baru aja diganti. Zzzzz…


For Your Information, di kereta ekonomi ini membebaskan para penjual asongan untuk berdagang lalu lalang di dalam kereta. Kalo di sekitar pasuruan banyak yang jual hewan-hewan gitu. Harga Lanting juga makin mahal semakin ke timur. Jadi inget, si Sando nyobain pemotong kuku tiap ada pedagang yang nawarin. Padahal dia sendiri bawa, saya pun bawa, lalu kenapa ini bocah iseng banget nyobain barang dagangan orang. Kesel jugak liatnya, dan terjadi berulang-ulang baik perjalanan pulang ataupun berangkat. Jambak juga ini pipi blushing.

Makin sore, makin malem, maenannya udah nggak jelas. Dari jempol-jempolan yang semula baik-baik saja, hukumannya terus berkembang menjadi truth or truth dan cari kata. Sampai hampir tengah malam kami tiba di Banyuwangi.

Di Banyuwangi kami langsung keluar, mau sholat di musholla stasiun tapi lampunya ajeb-ajeb gitu, lanjut deh kami jalan ke arah dermaga. Baru beberapa langkah dari stasiun, ada bencong kesukaan bocah-bocah. Mereka sangat senang, dan saya terharu. :’) (hoax)

Ngayogjakarta Wayah Wengi


KOPI JOS (NGGAK ADA FOTONYA)

Angkringannya rameeeee. Sampai-sampai saya yang sudah terlanjur lapar tidak kunjung menemui nasi kucing yang saya pesan. Kopi di sini khas, ada arang panas dimasukkan, saya ulangi, dimasukkan(bukan hanya dicelup) di dalam kopi. Selain itu ada menu susu, jahe dan campuran keduanya. Harganya sangat terjangkau sekitar Rp 3.000,-

Bego banget, saya ikut memesan kopi jos setelah susu jahe dinyatakan raib malam itu. Perut hampir kosong ditambah kopi adalah sesuatu yang tidak terperikan bagi penderita maag akut.

Agak lama kami ngobrol ngalor-ngidul, datanglah miss Lia dan dek Gugun. Berikutnya datang yang nggak kalah nggatheli, Rifqi and his bald(ing) head. Asiiiik. Rame!


Ngobrol lagi, more coffee, more ideas, dan tercetuslah BUKIT BINTANG.




BUKIT BINTANG

Kami motoran dari kopi joss ke bukit bintang, saya diboncengin Ahmad, Rifkik sama mbak Lia pertamanya, trus mbak Lia sama dek Gugun, pertukaran ini terjadi di POM bensin karena saya kebelet. Hehe. Pasangan terakhir adalah sejoli Jakarta, Sando sama Daddy.

"Saya tahu jalanan ini", itu yang ada di pikiran saya ketika menuju bukit bintang. Ternyata emang iya, jalan menuju Siung. Here’s the viewFANTASTIC!


Sky dining view versi Jogja(?)

Sebenarnya bukit bintang semacam ini tidak hanya bisa ditemukan di Jogja, di Semarang pun ada. Jika anda di tengah perjalanan malam dan lewat tol Tembalang(tembalang bukan sih ya, lupa saya), coba lihat gemerlapan lampu yang menghidupi kota Semarang. Tapi memang di bukit bintang Jogja udaranya lebih segar, hati-hati saja masuk angin. :)

Tengah malem, pikiran mulai macem-macem, adegan bunuh diri dengan berbagai pose mulai terbayang. Dan dibumbui cerita horror ala mbak Lia. Saya doang yang histeris dengerinnya. (I don’t like anykind of ‘cerita serem’, okay!-___-“)


Lumayan lama setelah foto-foto DIKIT, dan dikejutkan botol pecah, akhirnya kami pulang ke rumah Ahmad di jalan Ahmad Dahlan.(emang iya?!)

Somewhere between rumah Ahmad dan bukit bintang, tak diduga tak dinyana, pasangan sejoli dari Jakarta ilang baunya. Ternyata ban mereka bocor dan lagi di tukang tambal. Di sana ketemu sama Sando si pipi merah doang, mana Daddy dan Rifkik? Ternyata lagi nganter si Daddy yang sesak pipis ke POM bensin yang tadi pas berangkat.