Showing posts with label Adventure. Show all posts
Showing posts with label Adventure. Show all posts

5 Hari di Kendari

Pertangahan Juni lalu saya berangkat dinas ke Kendari. For your information, di Kendari tidak ada Mc D, dan Pizza hut. Sedih gak tuh!

Oya, 5 hari di Kendari saya manfaatkan tidak hanya ngebo di kamar. Alhamdulillah ada kakak kelas saya, namanya mbak tyas, yang mengakomodasi dengan pengetahuan, jemputan, makanan. The best lah pokoke! Malam pertama di Kendari, saya diajak keluar ke Pirla dan mencoba masakan Sunda. Kenapa masakan Sunda? karena saya sudah muak makan ikan bahkan di hari pertama. Malam - malam berikutnya kami wisata kuliner mencoba makanan di  Kendari Beach (Pisang epe'), di Ratu djimbaran(masakan laut, dan es kuwut), warung tenda Mas Joko(masakan laut, bebek, dan ayam), dan istana sulawesi(masakan laut).

Hari Pertama






Pesawat saya berangkat pukul 00.45 dari Cengkareng kemudian transit di Makassar sampai pukul 06.40. Tidak cukup dengan 3 jam terbang, 3 jam menunggu flight, ditambah lagi 2 jam lebih menunggu delay. Begitu sampai di Bandara Haluoleo Kendari, saya dan bapak ketua tim dijemput oleh bapak budi yang sudah menunggu kedatangan kami. Kemudian beliau mengantar kami ke tempat makan dan ke hotel. 8 jam berada di jalan cukup membuat kami 'teler'. Dan akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di hari pertama karena memang lokasi yang kami tuju memakan 6 jam perjalanan bolak-balik dan 2 jam offroad.

Meskipun diperintahkan istirahat oleh ketua tim, malam harinya saya pergi ke pinggir laut bersama mbak tyas. Saya mencoba Sarabba, minuman yang dibuat dari komposisi jahe, susu, dan santan. Lembut di mulut, enak di perut. Minuman ini kental sekali, jika tidak terbiasa mungkin agak eneg.

Hari Kedua


Berangkatlah kami ke Kolaka, tujuan utama kami datang ke tanah Sulawesi ini. Kendari dan Kolaka berjarak 3 - 4 jam perjalanan mobil, dengan medan berkelok dan pemandangan yang bagus. Hijaaaau semua kanan - kiri. Saat itu Kendari - Kolaka hujan seminggu terakhir, membuat pemandangan Kendari- Kolaka seperti di Bogor saja.

Di tengah perjalanan, kami berhenti di suatu warung. Agaknya mengisi perut dulu karena kami akan melewatkan jam makan siang jika terus-terusan melaju. Pak kasubdit da saya mencoba buras, yang pertamanya saya kira sejenis lapet yang notabene manis. Ternyata buras atau burassa' itu semacam beras dengan santan yang dikukus dengan daun pohon pisang. Warung yang kami kunjungi ini semacam warkop. Masing-masing kami memesan kopi, milo, kopi susu, dan makanan masing-masing.Saya dan bapak ketua tim kompak memesan mie goreng telor. Kami berdua sama-sama terperangah begitu pesanan datang,
Pak ketua tim; "mbak, saya pesennya mie goreng."
Mbak penjual; "iyek. Ini mie goreng semua." (dengan logat ketimuran yang kental)
Mie goreng di sini disajikan dengan kuah yang melimpah. Semacam makan mie rebus kurang bumbu saja rasanya.

Kami melanjutkan perjalanan ke Kolaka setelah menyelesaikan makan siang kami. Kurang lebih 2 jam kemudian kami sampai di basecamp auditee di Kolaka. Saya kira sudah sampai di situ perjalanan kami, ternyata kami harus ke site  juga. Dijanjikan perjalanan ke site 30 menit, dengan jalan agak bergelombang. Kami pun berganti mobil dari Avanza ke 4x4. Realitanya? Kami offroad selama lebih dari 2 jam. Saya sarankan jika akan offroad, lebih baik pipis dulu daripada offroad dengan menahan pipis, itu sungguh tidak enak, tidak nyaman. :|

Selesai dari site, malamnya kami langsung pulang ke Kendari. Ketemu kasur jam 2 pagi itu sungguh 'sesuatu' kalo kata syahrini. T.T

Hari Ketiga


Hari ketiga kami hanya keluar makan siang dan makan malam. Makan siang di rumah makan Padang. Yaelaaaah jauh-jauh ke Kendari makannya masakan Padang. T.T

Barulah malam harinya kami mencoba hidangan laut ala kendari di Ratu Djimbaran, kata Palpi sih enak. Tapi ternyata biasa masakan yang kami pesen. Es kuwutnya yang enak! Paduan es kelapa muda ditetesi perasan jeruk lime, dan diramaikan dengan sajian melon serut. Dengan Kendari yang segerah itu. :9 Seeeegeeeeerrrrrrrrrrrrrr deh!!!


Hari Keempat


Hari keempat tidak banyak melakukan apapun, hanya makan siang mencoba sop konro. Alhamdulillah dapet tempat yang enak. :9 Kata Palpi jarang bisa nemu yang masakannya beneran enak.

Malam harinya kami mencoba Pisang Epe' di dekat Kendari Beach. Pisang epe' adalah pisang yang dibakar kemudian dipenyet dan diberi saus manis. Kita bisa memilih varian rasa yang berbeda. Di warung yang kami kunjungi hanya ada rasa coklat, susu, dan keju. Kata palpi (lagi), yang enak adalah pisang epe' dengan saus durian. Sayang sekali di warung tersebut gak ada.

Hari Kelima


Kami kembali wisata kuliner mencoba Coto Makassar. Ada 2 macam yang disajikan di warung tersebut, tapi saya lupa apa variannya. -,-"
Coto Makassar adalah hidangan pagi di Kendari. Sore atau malam hari jarang bisa ditemukan. Beda dengan di Makassar, Coto bisa ditemukan hampir tiap saat.(Kata masnya mbak tyas sih begitu.)

Hari Keenam


Tibalah saatnya kami pulang. Pagi sebelum kami pulang, saya menyempatkan diri menikmati sunrise di tepian laut sepanjang bypass Kendari.

Satu matahari yang sama.
Beda tempat
Beda teman
Beda rasa
Ya, tetap saja saya mengejarnya






Terima kasih, Kendari...
Indonesia indah!
Category: 4 comments

Waktu Senggang + Uang Satu Juta = Bali


Jika anda punya uang pas-pasan dan memiliki waktu sangat senggang seperti saya, lari lah ke Bali barang sejenak. Akan lebih baik lagi jika anda punya kerabat atau teman yang berdomisili di Pulau Dewata ini. Selain kemungkinan mendapat keringanan dalam biaya akomodasi, waktu anda akan lebih efisien selama di Bali karena sekaligus mendapatkan guide gratis.

Berikut rincian biaya meliputi transportasi yang saya tempuh dari Yogyakarta menuju Denpasar(Bali), sewa motor, penginapan, dan HTM

Yogyakarta – Banyuwangi                                       : Kereta Sritanjung               Rp 35.000,-
Banyuwangi(Ketapang) – Denpasar                         : Bus Akasasri                      Rp 25.000,-**
Denpasar – Kuta                                                     : Carter angkot                     Rp 100.000,-*
Sewa Motor                                                            : Rp 50.000,-/day
Penginapan                                                              : Rp 100.000,-/2 orang/malam

HTM…
Garuda Wisnu Kencana                                            : Rp 25.000,-
Pura Uluwatu                                                            : Rp 3.000,-
Monkey Forest                                                         : Bisa free, bisa Rp 20.000,-
Danau Batur                                                              : Rp 10.000,-
Pantai Sanur                                                              : Free
Tanah Lot                                                                  : Motor Rp 2.000,- Orangnya Rp 7.500,-
Pantai Kuta                                                                : Free

*Karena kami bersepuluh, maka satu orang dikenakan biaya Rp 10.000,- untuk carter angkot.
** Jika bus anda tidak mengakomodir tiket penyeberangan, biaya menyeberang Ketapang - Gilimanuk Rp 6.000,-

Perjalanan Yogyakarta – Banyuwangi memakan waktu 14 – 15 jam. Kereta Sri tanjung beranjak dari stasiun Lempuyangan Yogyakarta dengan jadwal kereta pukul 7.28 WIB. Akan tetapi kereta ekonomi ini tidak akan berangkat sebelum kereta ekonomi Bengawan dari Jakarta merapat ke stasiun tersebut. Saat itu kereta berangkat pukul 8.25 WIB, dan tiba di stasiun Banyuwangi Baru hampir tengah malam.

Anda akan menemui banyak penjual asongan di sepanjang perjalanan. Dari penjual lanting, potongan kuku, mainan anak-anak, bahkan burung hantu pun dapat anda temui. Harga lanting semakin ke timur akan semakin mahal karena asalnya sendiri dari Kebumen, maka wajarlah ada kenaikan harga. Di daerah sepanjang Ngawi hingga Pasuruan ramai sekali penjual hewan-hewan liar. Ini dikarenakan daerah tersebut terdapat hutan-hutan jati(kata nyonyahe). (Teman seperjalanan saya, ayong*, sempat membeli burung hantu yang dinamakannya Jojom 2. Dengan harga Rp 20.000,- ini masih sangat bisa untuk ditawar dengan harga lebih rendah. Tapi apa daya ayong pasrah.) 
*Badannya gedhe bener, tapi kalo masalah nawar mendadak lunak.

Kereta Sri Tanjung akan berhenti di stasiun Gubeng Surabaya untuk mengganti lokomotif dan akan berhenti cukup lama. Selanjutnya kereta akan melewati lokasi semburan lumpur Lapindo. Agak berbau telur busuk jika melewati daerah ini. Setelah lokasi tersebut di kanan dan kiri rel sering sekali nampak pemandangan tanah pekuburan. Tengah malam di depan stasiun Banyuwangi Baru banyak banci. Jika anda lelaki berbadan besar seperti ayong berhati-hatilah, banci sangat suka.

Berjalan keluar dari stasiun ke arah pelabuhan Ketapang, akan banyak anda temui bus dengan jurusan terminal Ubung(Denpasar). Bus dengan sheet 3 – 2, dan tanpa AC. Harga Rp 25.000,- yang kami dapatkan bukanlah harga paten. Itu adalah harga debat antara Sinaga dengan bang sopir. Jadi? Pandai-pandailah dalam bernegosiasi. Hidup sinagalapet! 

Begitu bus memasuki kapal dan mematikan mesinnya, kami menuju mushola yang terdapat di kapal ini untuk menjama’ sholat maghrib dan isya’. Penyeberangan hanya berlalu sekitar 30 menit sampai satu jam. Pergilah ke bagian deck kapal dan menikmati angin malam yang lumayan kencang, jika beruntung anda bisa meminta untuk masuk ke bagian kendali kemudi kapal. Meskipun dengan jelas tertera ‘dilarang masuk’.

Sesampai di Gilimanuk akan selalu diadakan pemeriksaan KTP(kartu identitas lain bisa, seperti SIM), kabarnya orang yang kedapatan tidak memiliki kartu identitas diperintahkan untuk kembali. (Nggak tau sih, saya enggak nyoba juga.) Perjalanan panjang dari Gilimanuk menuju Denpasar, memakan waktu cukup lama. Adzan subuh terdengar tidak lama setelah kami sampai di terminal Ubung Denpasar.

Denpasar – Kuta dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit. Ada alternatif lain selain menyewa angkot. Ada trayek angkot menuju Kuta. Hanya saja alternatif ini mengharuskan anda 2 kali naik, dan transit di wilayah Tegal dulu baru kemudian melanjutkan ke Kuta. Saya menemui hampir semua angkot berwarna biru, ternyata yang membedakan adalah warna garis pada badan mobil angkot ini(koreksi saya jika saya salah J ).

(Penginapan dan Transportasi di Bali)
Kuta, gang Poppies Lane II. (katanya sih)Di sinilah sentra penginapan murah bagi para backpacker. Penginapan yang sangat terkenal dengan tarif kamar Rp 50.000,-/2 orang/malam adalah Arthawan. Saya dan seluruh teman seperjalanan tidak menginap di tempat tersebut lantaran penuh. Kami menginap di Mekar Jaya, tarifnya dua kali lipat. Keuntungan memilih tempat ini(Mekar Jaya), begitu keluar langsung ketemu tempat penyewaan motor. Memang di Bali sangat mudah menemui tempat penyewaan motor sih. Mayoritas motor yang disewakan adalah motor matic.

Hal yang menarik dari tempat rental motor di sini, tidak hanya menyewakan motor saja. Ada ‘perpustakaan’ yang dikelola oleh pemilik yang sama. Tempat ini melayani penukaran dan penjualan buku. Anda bisa menemui buku dengan berbagai bahasa, bahkan terbilang jarang buku dengan bahasa Indonesia di deretan rak yang saya temui. Oya! Anda bisa meminta atau membeli brosur dengan peta yang dipajang di depan rental. Hati-hati, brosur tersebut ada yang memang disediakan gratis dan ada juga yang dijual. Mintalah untuk dijelaskan rute menuju tempat wisata yang ingin anda kunjungi. Atau lebih baik, mintalah teman anda yang berdomisili Bali, atau berkuliah di Sekolah Pariwisata di Bali, untuk menunjukkan jalan. Itu akan lebih menghemat waktu.

(Destinasi)
Hari Pertama

Pura Uluwatu
Mengutip dari blog sanda,
Sampai juga di Pura Luhur Uluwatu.

“This temple is one of several important temples to the spirits of the sea along the south coast of Bali. It’s one of the seafront temples beside Tanah Lot, Rambut Siwi, and Pura Sakenan. The temple is perched precipitously on the southwestern tip of peninsula, atop cliffs that drop straight into the pounding surf” (lonely planet page 132).
“For the Balinese, Pura Tanah Lot is one of the most important and venerated sea temples. Like Pura Luhur Uluwatu, at the tip of the southern Bukit Peninsula, and Pura Rambut Siwi to the west. Its said that each of the ‘sea temples’ was intended to be within sight of the next, so they formed a chain along Bali’s southwestern coast-from Pura Tanah Lot you can usually see the cliffs top site of Pura Uluwatu far to the south, and the long sweep of sea shore west to Perancak, near Negara” (lonely planet page 272)."



Berbagai macam gaya...
Pakai sarung, padahal celana kita lebih
dari selutut.
Wow, seandainya saya tuntas baca buku itu sebelum sampai di Bali, pasti kekaguman saya jauh lebih besar. Bayangkan, orang jaman Majapahit udah bisa mbangun arsitektur se-mikir itu dan se-keren itu. Dari salah satu Pura Laut tersebut, kita bisa melihat Pura Laut di seberang lho katanya… Padahal jaraknya puluhan kilometer. Semacam benteng terluar selatan Pulau Bali lah.

Tahu begini, kami nggak hanya foto-foto doang (lha memang mau ngapain lagi yak?). Setidaknya kami bisa merinding disko kalau bisa lihat Tanah Lot dari kejauhan begini. Sedihnyooo."


Biaya masuk pura uluwatu hanya Rp 3.000,-. Pengunjung diharapkan berpakaian rapi dan pantas. Karena ini tempat sakral, pengunjung harus mengenakan kain mirip selendang kecil yang diikatkan di pinggang, untuk yang bercelana pendek juga dianjurkan memakai selendang yang lebih lebar sebagai sarung.

Monkey Forest
HTM monkey forest Rp 20.000,- dan ada yang jualan pisang di sana jika anda berniat mulia memberi makan monkey-monkey liar. Ada jalan cukup untuk dilalui motor yang meniti pinggiran tempat ini jika anda sayang dengan dua puluh anda.

Pantai Dreamland
Kami mengunjungi pantai dreamland yang bersih tapi ramai. Ombak di sini besar, beberapa surfer memanjakan diri di sini. Ada juga yang melakukan recording di pantai kala itu, entah untuk kepentingan apa. Awalnya saya sempat mengira ayu ting-ting. Saya lupa deh bayar ato enggak masuk ke komplek New Kuta B**ch ini.

Garuda Wisnu Kencana
Garuda Wisnu Kencana adalah tempat dimana anda bisa menyaksikan cita-cita besar membangun patung yang akan melebihi icon paman sam, yakni patung liberty. Biaya masuk Rp 25.000,- dan agaknya pada complain mahal. Menurut saya sih worthed. J
Ada bermacam suguhan tari-tarian di amphi theater GWK. Pukul 18.00 WITA,tarian Kecak mulai disuguhkan. Sebenarnya ada performance sebelumnya, tapi saya lupa tari apa, dan kami nggak nonton jugak. Saya terkesan dengan tari kecaknya. (Meskipun kata iwan biasa aja sih.) Pilih lah duduk di deretan paling depan, jika beruntung anda akan diajak turut berpartisipasi(berarti saya sial dong). Lebih nampol aja kalo duduknya di depan. Dan kalau anda cukup tidak tau malu seperti Jojom, bisa ngeloyor aja ke depan ikut nari. Penonton biasanya mengajak para penari berfoto seusai pertunjukan.

Hari Kedua

Berikut beberapa twit saya tentang hari ke-2

day 2 Bali-ing, CUMA ke danau batur. iya sih satu destinasi aja, tapi indahnya subhanallah yah!”
“Danau batur terletak di kawasan wisata kintamani, kalo ketauan tampang turis, bayar di pertigaan loket menuju danau.”
“Lupa deh bayarnya berapa, 10k kayaknya”

Danau Batur sangat jauh dari Kuta, pantat tepos terbayar dengan indahnya pemandangan kawasan wisata Kintamani. Danau Batur adalah danau vulkanik. Sempat aktif beberapa bulan sebelum kedatangan saya ke sana oktober lalu. Kata seorang ibu yang memiliki warung di sekitar danau dan berdomisili asli di situ, saat danau aktif warnanya berubah-ubah. “Jadi bagus warnanya, tapi ikan-ikan mati.” Tutur bu kadek(jika mengikuti teori hipotesis sanda, nama beliau bu kadek).
Desa Trunyan terlihat dari tempat kami berhenti di warung bu kadek, beliau sempat menambahkan bahwa biaya perahu(speed boat) untuk menyeberang normalnya adalah Rp 500.000,- berapapun orangnya.

Hari Ketiga

Pantai Sanur
Sunrise sangat indah di pantai Sanur, sepi sekali. Hanya beberapa bapak-bapak yang mempersiapkan amunisi divingnya. Sangaaaat indah sunrise di sini, meskipun pantainya sudah agak kotor. Saksikan sendiri dan anda akan tahu yang saya maksud.

Tanah Lot
Agak pasang jika pagi, dan anda tidak bisa masuk jika ada upacara di sana. Yang namanya batu karang memang tajam, hati-hati saja jika anda me-labil di sana. Lecet-lecet.

Pantai Kuta
Kalo mau liat sunset katanya sih di sini. Entahlah, kami nggak nyunset di sini. Padahal deket.

Erlangga
Sentra oleh-oleh yang katanya murmer alias murah meriah. Selama ini pasar tradisional Sukowati lebih menggaung namanya daripada Erlangga. Jika anda malas menawar(biasanya cowok-cowok), anda bisa datang ke toko ini. Semua barang yang dijual sudah ber-tag dengan harga yang lumayan miring. (Saya kalap banget kalo belanja oleh-oleh! Habis lebih dari Rp 300.000,-!)

Dari Erlangga kami langsung menuju terminal Ubung. Belum sempat angkot yang kami carter berhenti, calo-calo sudah masuk ke angkot dan berteriak sana-sini. FYI, calo di terminal ini sangat ganas. Anda akan diikuti kemana pun anda pergi.

Ngongkos pulang;

Carter Kuta - Erlangga                                                      : Rp 100.000,-
Carter Erlangga - Ubung                                                    : @ Rp. 7.000,- (ber-9)
Ubung - Gili manuk (nggak nyampe Ketapang)                   : Rp (LUPA)
Gili manuk - Ketapang                                                       : Rp 6.000,-

Demikian beberapa tempat yang kami tuju dan rincian biaya serta sedikit bumbu cerita. Perjalanan dengan destinasi yang sama bisa berkesan berbeda dengan teman seperjalanan yang berbeda.

Terima kasih kepada,

Ahmad atas kasur yang super PW(yang nggak dapet kasur nggak usah senewen), super-delicious-hot-tea, dan sarapannya.

Mbak Lia yang sudah menemani me-wanita, dan ilang bross-nya, miyanhae.

Sando yang nyobain semua potongan kuku di kereta.

Gugun yang sangat menyebalkan dan giat sekali 'ngece'.

(oom) Dio yang membawa serta Lia. 

Jombang yang menambah aroma kehomoan di rombongan.

Dedi yang ampe juling liat 'lonely planet'.

Iwan yang sudah sabar mengojek 3 hari.

Ayong yang udah pasrah nggak mau nawar.

Rifkik yang ngikut ke Bukit Bintang.

Sayyyyyang kalian. Terima kasiiiiih. :) :D

Merbabu, 25-26 Agustus 2007



Pagi ini saya terlibat dalam rapat kecil panitia ekspedisi Elbrus(26/03/2011). Rapat dimulai bang Jabrix dengan menularkan semangat kepada semua yang hadir. Sedikit banyak memotivasi, dan membangkitkan memori.
Salah satu pertanyaan beliau, "Pernah gak waktu naik gunung, ditinggalin ama temen-temen seperjalanannya? Baru nyampe, eh merekanya langsung jalan."
Saya pernah. Pernah banget!

Pendakian pertama, Merbabu via Selo.

25-26 Agustus 2007

Sabtu sibuk selepas sekolah, saya packing untuk pergi ke merbabu. Dengan bersandang manset hitam, kaos nevada hitam berkantung doraemon kesukaan saya, jilbab putih (yang ini bego), celana jeans, sepatu adidas, persiapan ala kadarnya, dan pengetahuan yang sangat minim tentang gunung, saya dan sahabat baik saya(namanya Yuni, saya memanggilnya uni') mengikuti pendakian umum yang diadakan oleh sispala SMA saya(EMAPAL).

Sekitar pukul 16.30 kami berangkat dari SMA 1 KLATEN menuju basecamp. Saya lupa tentang persis waktu kami tiba di Selo, yang jelas langit sudah gelap dan udara dingin mulai menusuk. Tapi saya masih menahan diri untuk mengenakan jaket agar tubuh saya menyesuaikan suhu sekitar. Dari tempat terakhir truk berhenti, kami berjalan cukup jauh ke sebuah masjid. Belum apa-apa saya sudah lapar gak ketulungan. Saat itu saya hanya berbekal roti sobek ukuran besar 3 bungkus, air minum Aqua 1,5 liter dan 600 ml, sleeping bag, jaket 1 helai, dan raincoat. Dari masjid tersebut kami masih berjalan agak jauh ke basecamp. Setibanya kami di basecamp langsung disuguhi nasi bungkus.

Sekitar pukul 21.30 panitia membagi kelompok, kelompok saya kelompok 2 (kalo gak salah). Kemudian beberapa saat setelah itu kami berangkat menapaki Merbabu. Pendakian malam hari memang agak sulit, kita tidak bisa mengetahui secara persis medan yang kita lewati. Jika hujan, ponco atau raincoat sangat berguna tidak hanya untuk berlindung dari hujan tapi dari angin juga. Alhamdulillah perjalanan kami tanpa hujan. Senter adalah alat wajib dalam pendakian malam. Alat ini membantu kita dalam orientasi medan. Saya hanya membawa satu senter, saat di perjalanan itu senter saya dipakai orang lain dan berlanjut sepanjang perjalanan. Dan buat pengetahuan aja, Merbabu via Selo licin berpasir kalo nggak ada hujan.
Mendekati sabana, ada bagian yang benar-benar licin. Sampai-sampai kalo naik harus pake tali. Saya nggak lebay sih, pas itu beneran pake tali kok mas-mas panitianya bantuin peserta.


Entah sekitar pukul berapa, saya terpisah dari kelompok. Sempat berjalan sendirian di kegelapan tanpa senter. Di depan saya kemudian ada mas-mas, mungkin panitia (suaranya gahar woy). Saya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok mereka. Menuju sabana, kami sempat berhenti di batu nisan bertuliskan Heri Susanto(kalo saya gak salah sih), kabarnya dia pendaki yang meninggal di Merbabu. Melanjutkan perjalanan, sampailah kami di Sabana pada pukul 02.30. Di sana saya tidak mau makan, dan langsung tidur mengeluarkan sleeping bag saya.

Pukul 05.30 saya terbangun dengan muka belepotan debu pasir dan baru sadar kalo saya tidur tepat di tepi ...(entah jurang atau apa, pokoknya di tepi dan kalo jatuh mati aja deh), satu lagi yang perlu dijelaskan, saya terpisah dari rombongan yang lain dan benar-benar sendirian. Kemudian saya bangun dan sholat subuh, setelah itu menikmati sunrise tepat di depan tempat 'menginap' saya. Kami temu kangen sekelompok setelah beberapa saat celingukan mencari teman.

Pukul 07.00 panitia mengumumkan, jika ingin muncak silakan. Ikuti jalan ini, kalo mau ninggal barang nggak papa. Saya bilang ke panitia, "Mas, saya males bawa ransel. Nitip ya."
"Yakin gak bawa apa-apa?"
"Enggak deh."
"Entar haus..."
"Enggak, orang saya kebelet pipis malah."
Perkiraan saya salah. Ternyata kami harus naik-turun bukit(kayaknya 3, tapi saya lupa) dan itu sangat membutuhkan air.

Pukul 07.00 saya berangkat bersama beberapa teman sekelompok yang masih mau lanjut. Melewati bukit, saya mulai(lagi) meninggalkan teman sekelompok dan berusaha mengejar kelompok di depan saya. Di tengah perjalanan menuju puncak (karena jalan saya terhitung sangat lambat), saya(sendiri) berada di tengah antara tim yang di belakang(cewek-cewek semua, termasuk uni' dan panitia yang mendampingi) dan tim depan(cowok-cowok peserta dan panitia pendampingnya). Saya berjalan sendirian(lagi). Sempat merasa aman karena mengira akan disusul tim belakang, dan ternyata mereka mundur setelah turun dari bukit pertama. Ingin menyusul tim depan, langkah saya tidak cukup cepat, kalau mundur lebih sayang lagi.

"You go this far, why don't you try to deal with it."

Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, tanpa teman, tanpa air minum dan tanpa sarapan. Beruntung sekali langit sangat cerah, meskipun terik tapi pemandangannya LUAR BIASA. Apalagi sabananya. Senyum saya terkembang setiap melihat sekeliling. Subhanallah. Tidak semua orang bisa sampai sejauh ini. Keuntungan muncak sendirian adalah kalian bisa jalan santai, tapi ngeri kalo dibayangin. Pingsan nggak ada yang nolongin.

Agak lama berjalan, akhirnya saya sampai puncak. Kalau kalian tahu, nggak ada apa-apa di puncak. Cuma ada pemandangan indah yang susah banget dilupakan. SANGAT AMAT INDAH. Perjalanan paling 'nggak banget' sekaligus paling 'indah' yang saya alami. Pendakian pertama tidak akan terlupakan.

:)
Alhamdulillah, puncak merbabu terengkuh. Sempat bilang kapok dan gak mau lagi naik gunung gara-gara dengkul udah mau copot rasanya. Oya, muka saya nggak pake ngelupas kulitnya pas pendakian pertama ini. Siap sedia lotion, ama lipbalm deh. haha.



Itu foto saya di puncak Merbabu, dengan latar belakang gunung Sindoro dan Sumbing.

Indonesia indah, pa!
Category: 0 comments

Pesona Pantai dan Tebing Siung





Pantai Siung, terletak sekitar 70km dari pusat kota Yogyakarta. Tepatnya di selatan wilayah kecamatan Tepus Gunung Kidul. Nama tempat ini masih asing karena banyak pantai di Yogyakarta yang lebih favorit dari pantai siung, seperti parangtritis, baron, krakal, dan kukup. Namun keindahannya tidak kalah dengan pantai-pantai tersebut.

Satu pesona yang menonjol dari Pantai Siung adalah batu karangnya. Karang-karang yang berukuran raksasa di sebelah barat dan timur pantai memiliki peran penting, tak cuma menjadi penambah keindahan dan pembatas dengan pantai lain. Karang itu juga yang menjadi dasar penamaan pantai, saksi kejayaan wilayah pantai di masa lampau dan pesona yang membuat pantai ini semakin dikenal, setidaknya di wilayah Asia.

Batu karang yang menjadi dasar penamaan pantai ini berlokasi agak menjorok ke lautan. Nama pantai diambil dari bentuk batu karang yang menurut Wastoyo, seorang sesepuh setempat, menyerupai gigi kera atau Siung Wanara. Hingga kini, batu karang ini masih bisa dinikmati keindahannya, berpadu dengan ombak besar yang kadang menerpanya, hingga celah-celahnya disusuri oleh air laut yang mengalir perlahan, menyajikan sebuah pemandangan dramatis.

Karang gigi kera yang hingga kini masih tahan dari gerusan ombak lautan ini turut menjadi saksi kejayaan wilayah Siung di masa lalu.

Sempat sepi lantaran jauhnya jangkauan transportasi, belakangan siung mulai ramai dan berkembang pesat dari sekadar daerah terisolir. Fasilitas listrik, penginapan, dan warung makan yang tersedia di sepanjang pantai semakin mendukung daya tarik alaminya. Jika anda berniat untuk bermalam di sini, tidak perlu membawa tenda sendiri. Harga penginapan pun terjangkau, cukup Rp 5,000.00 per malam. Keperluan untuk sekali makan hanya sekitar Rp 10,000.00 dan sudah termasuk minum.

Alternatif transportasi dari pusat kota Yogyakarta
Jika anda memakai kendaraan bermotor, sangat dianjurkan untuk memeriksa vitalitas kendaraan. Apalagi daerah ini sangat terpencil dan minim akan fasilitas perkotaan. Sinyal alat telekomunikasi hanya bisa ditemukan di daerah Tepus, itu pun hanya untuk operator tertentu, dalam hal ini XL. Jalan yang anda tempuh akan berupa kelokan dan bukitan. Jalur yang anda ambil dari pusat kota Yogyakarta menuju ke Wonosari, Gunung Kidul. Kemudian mengarah ke wilayah Wedi Ombo, sebelum masuk kawasan Wedi Ombo akan ada tulisan Pantai Siung. Sekitar 15 menit dari marka jalan terakhir, anda akan sampai di pantai Siung. Jika anda berusaha menjangkaunya dari terminal Giwangan Yogyakarta dengan kendaraan umum, silakan naik bus menuju wonosari. Sesampainya di terminal wonosari, pilihlah bus kecil menuju Tepus, biaya untuk masing-masing bus sekitar Rp 7,000.00. Kendaraan umum dari terminal Wonosari menuju Tepus hanya sampai sore saja, sedangkan sebaliknya hanya sampai pukul 2 siang. Jika anda berombongan, alternatif mobil carteran bisa menjadi pilihan. Dari terminal Wonosari menuju siung harganya berkisar antara Rp 150,000.00 s.d. Rp 250,000.00, tergantung pada negosiasi dengan pemilik mobil tersebut. Mobil ini kira-kira bermuatan 8-10 orang. Tarif yang lebih mahal sangat normal diterapkan jika anda mengambil perjalanan malam.

Yang menarik dari pantai ini selain pemandangan yang indah, untuk wisatawan dengan minat khusus, anda dapat menemukan tebing dengan jalur-jalur yang menantang. Jalurnya diurutkan sesuai abjad. Terdapat jalur A sampai dengan jalur K. Dari tebing di Siung ini masih banyak jalur yang dapat dieksplorasi, namun sudah muncul larangan untuk memasang jalur selain yang telah ditentukan. Berhati-hatilah saat memilih jalur karena tidak setiap hanger masih dalam keadaan fit, karena sudah berkarat.

Pantai Siung indah. Indonesia indah, Pa.
Category: 0 comments

Tour de Paris Van Java

Bandung, 5 Maret 2011

Big day to go...
Bandung sepertinya sangat hangat menyambut.

Kalian semua yang hobi traveling, shopping, sampai wisata alam, check this out bro!
Bandung, Kota Kembang.

Wilayah ini sangat memungkinkan one-day-trip. Jika anda berangkat dari Jakarta, silakan naik bus antar kota, tarifnya sekitar Rp 50.000,-. Bus ini akan mengantar anda sampai terminal Leuwi Panjang. (Sangat direkomendasikan untuk memilih bus Primajasa karena sangat nyaman berada di dalamnya, bahkan meskipun gak dapet tempat duduk.)

Alternatif angkutan umum dari Leuwi Panjang sangat gampang, tinggal mau kemana dulu...
Hati-hati ditipu bapak-bapak kenek Damri, bus Damri gak lewat depan gedung sate bung. Tapi kalo mau keliling kota? Silakan deh pake Damri, reachable ke semua pojokan-kota-Bandung. Semua titik utama kota Bandung akan dilewati, mau ke Braga, Riau(Jl. RE Martadinata), UNPAD, tinggal sekali capcus deh.



Jika tujuan anda ke gedung sate, masih harus naik angkot satu kali dari UNPAD dan jalan beberapa meter dari titik stop angkot. Untuk berpindah dari titik satu ke titik lain, angkot kecil sangat diandalkan di sini, banyak jurusan, makanya liat-liat, tanya-tanya, ada bapak polisi yang siap sedia(ganteng pulak polisinya).

Oya, kalo nanya warga setempat dan dijawab "nanti ada setopan, belok kanan..." FYI: setopan itu kata lain dari lampu lalu lintas. Dicatat yak!
Tarif angkot kecil bervariasi tergantung jarak yang ditempuh, paling mahal 2 orang Rp 5000,-.

Yeah, saya akui paling males kalo ke Bandung kemaren itu yaitu ke Riau ama ke Ciwalk, maegad! Ogah lagi deh kalo diajak ke sana, ke Riaunya oke, belum menelusuri lebih jauh sih, kalo ke Ciwalk e.n.g.g.a.k.d.e.h. For fashionista, silakan deh kalo mau ke situ, tapi gak ada yang spesial. Barangnya juga gak bagus amat, iya sih sepatunya cantik-cantik, hehe.



Seharusnya kalo gak dikejar jam sore, paling betah di Gedung Sate, mau seterik apa juga adem di sini. Keliatan bukit Manglayang dari depan Gedung Sate. Saya dan Iko menemui gerbang depan ditutup, entah dalam kondisi apa ditutupnya. Ada kantor DPRD juga di sebelah gedung sate ini, masih satu kompleks. Bagus kantornya. :)



Museum kantor pos di sebelah gedung sate merupakan kantor pusat pertama POS Indonesia. Kami masuk dan berkeliling di dalamnya.


Museum ini gratis, dan ada bapak-bapak guide yang ngasih service gratis juga. (Eh, gratis nggak sih. Lupa!) Perangko dari zaman penjajahan, alat-alat mailing, seragam tukang pos dari berbagai dekade, hingga replika kegiatan surat-menyurat zaman dahulu, ada di museum ini.



Next stop, Braga, Bandung zaman doeloe. Suuuukkaaaaa. The Kiosk adalah tempat makan di dalam sentra belanja di Braga. Kata iko, gaya mall di Bandung memang seperti ini, semacam CiWalk. The Kiosk cantik sih, tapi appppaaaaa?! Makanannya enggak banget. Entah kami yang salah milih menu atau gimana ya. Mie Kocok Kaki Sapi rasa tawar. Bolehlah foto-foto pas numpang makan. :)



mmm, yang khas dari Bandung ini ternyata mall yang terbuka. Toko-toko berjajar di luaran mall, masih merangkai sampai ke dalam (center-point). Tempat makan di Ciwalk, unyu, tapi gak nyobain satu-satu. Unyu yang saya maksud adalah desain tata ruang yang mengundang.

Saya belum sempat ke wisata alamnya sih, tapi setahu saya ada kawah putih, ada hutan, ada kebun sayur tempat shooting sherina dulu, ada juga tempat wisata minat khusus untuk para pemanjat(Citatah).
Citatah ini tebingnya megah, kalo saya bilang bukan untuk newbie deh tebingnya. Obviously amazing!!!
Saaaaaaaaayyyyang banget saya juga belum ke Boscha. :) sedikit sedih.

Well, Bandung is beautiful.
Indonesia indah, pa. :)
Category: 0 comments

Lawu Ganteng!



Tanggal 22 Oktober 2010, pukul 16.00 saya masih berada di Bengkel media center untuk cuap - cuap dikit sok sibuk gitu. Selanjutnya pukul 16.30 saya sudah stand by di Posko STAPALA hendak berangkat menuju kabupaten Magetan Jawa Timur.

Kami pergi menuju Magetan dengan jalur transportasi sebagai berikut:
KRL Pondok Ranji - Tanah Abang
Kereta Bengawan bareng The Jakmania; Tanah Abang - Stasiun Solo Jebres
Jalan kaki sebentar menuju jalur bus Langsung Jaya; Jebres - Tawangmangu
Angkutan kecil semacam mobil carry; Tawangmangu - Magetan (Cemoro Sewu)



Tanggal 23 Oktober 2010, sekitar pukul 11.00 kami bertemu rombongan kami yang lain. Kemudian mulai mendaki gunung Lawu pukul 12.30. Beberapa saat sebelum mendaki, saya sadar saya nggak bawa obat sesak napas saya. Sampai pos 2 langit masih cerah dan semuanya berjalan lancar. Dari pos 2 menuju pos 3 hujan mulai mendera. Kami akhirnya sampai di pos 3 setelah menerjang hujan.
Saat di pos 3 ini, saya baru nyadar kami terpisah menjadi 3 kelompok.
kelompok pertama, yang baru saja berangkat dari pos 3; Jane, Kower, Item, Botak, Codet dan ceweknya, Hanum.
Kelompok kedua, yang sedang di pos 3; Saya, Palpi, Ijil, Mas Wipy, dan Mas Julian.
Kelompok ketiga, yang belum sampai di pos 3; Kopyor, Combro, Depex, Change', Jupret dan Odol.

Saat saya berhenti di pos 3, hujan agak reda. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa lama kemudian, saat kami sudah jauh dari pos 3 dan masih jauh juga dari sendang derajat, kami diguyur hujan habis-habisan.

Pada awalnya saya, Palpi dan Ijil balapan sama mas Wipy dan mas Julian. Kemudian fisik saya mulai drop. Dan berhenti di salah satu anakan tangga menuju puncak. Kami bertiga menunggu mas Wipy dan mas Julian yang masih di belakang. Saat itu sudah sekitar pukul 18.00, saya kebasahan semua dan kedinginan. Saya dan mas Wipy hypothermia. Akhirnya kami berhenti di situ sejenak untuk menghangatkan diri dan mengganti baju kami yang basah. (astaga, untung aja gelap. bayangkan! saya ganti baju di tengah jalan tanpa tabir apapun... etapi ada Palpi sih jadi aman.)

Saat itu ada mapala dari Bandung yang hendak ke Sendang Derajat, tempat kelompok yang pertama ngecamp. Kami minta tolong supaya pesan kami disampaikan kepada Jane, atau yang lain yang ada di sana. Kami butuh pertolongan, dan 2 orang di antara kami hampir mati kedinginan.

Sambil menunggu Jane dan Kower turun, kami memasak air dan membuat Jahe Merah untuk menghangatkan tubuh kami. Saya sudah seperti orang linglung, memegang gelas saja tidak bisa, apalagi meminumnya. haha. Payah.

Beberapa saat kemudian Jane dan Kower turun dan membantu kami menuju Sendang Derajat. Daypack saya dibawakan Kower dan Jane membawakan Carrier mas Wipy. Di tengah Jalan antara tempat kami berhenti dan Sendang Derajat, saya merasa lemas dan duduk. Kower menyuruh saya berdiri, katanya kalau badannya tidak digerakkan, nanti kaku, kedinginan. Kemudian dia bilang, "Jalan di sampingku aja, biar nggak kena angin..." Alamak, langsung lah saya nangis lebay terharu gitu. #eh

Dan malam itu akhirnya kami sampai di Sendang Derajat, saya langsung disuruh tidur biar hangat katanya. Tapi saya belum sholat maghrib dan isya', jadi saya sholat, kemudian tidur. Di tengah tidur, saya dibangunkan disuruh minum jahe hangat ama makan mie instan. Hangat sudah malam itu.



Pagi menjelang, kami muncak pukul 9 pagi setelah rombongan yang tertinggal berhasil menyusul kami di sendang derajat, yaitu Change', Jupret, Combro, Kopyor, Depex, dan Odol. Sebelum ke puncak, kami menitipkan barang dan sarapan di tempat mbok yem, warung yang terkenal dengan pecelnya di ketinggian tigaribuan meter di atas permukaan laut. Dan juga mampir ke makam dan ke rumah botol.



Pemandangan di puncak, kami disuguhi dengan triangulasi yang indah. Matahari di lawu sangat terik dan dinginnya sangat menusuk.

Tapi memang Lawu ganteng. Lawu indah, Indonesia indah, pa!
Category: 0 comments